TIGA ASUMSI YANG MERUSAK YANG BIASANYA KITA MILIKI DALAM HUBUNGAN DENGAN PASANGAN KITA

peace faith love

Hubungan dengan pasangan kita, adalah sebuah sumber ketegangan dan sekaligus sumber kebahagiaan, yang luar biasa. Semua hal yang kita jalani berpusat pada pikiran kita. Di bawah ini adalah 3 hal yang biasanya melanda pikiran kita dalam perjalanan hubungan kita dengan pasangan kita, 3 hal yang kali ini akan kita lihat bisa menjadi sumber masalah dan ketegangan yang luar biasa di antara kita dan pasangan kita.

1. ‘AKU MERASA SAKIT, ..INI ADALAH KARENAMU..’

Kita seringkali berasumsi bahwa jika kita merasa sakit atau marah atau sedih, dan itu berhubungan dengan pasangan kita, maka kita akan berpikir bahwa itu pasti kesalahan pasangan kita, atau bahwa mereka pasti telah menyebabkan rasa sakit itu. Demikian menurut Keith Miller, psikoterapis ahli dari Washington DC.

Sebagai contoh, seorang istri mendapat kabar dari suaminya bahwa suaminya mendapat tugas kerja ke luar negeri. Dengan segera ia mulai merasa dibebani pikiran bahwa ia akan mendapat tanggung jawab untuk merawat dan menjaga anak-anak mereka, sementara pada saat yang bersamaan ia juga harus memenuhi jadwal tuntutan-tuntutan pekerjaannya. Ia akan terus berpikir, “Kenapa aku yang terus-terusan diharapkan/dituntut untuk selalu mengorbankan banyak hal dan menjaga banyak hal sementara ia bisa ‘menghilang’ dengan begitu saja..?”  Dan seterusnya ia juga mulai membuat asumsi-asumsi yang lain: “Dia tidak menyayangiku. Pekerjaannya lebih penting dariku baginya”. Dengan kata lain ia berasumsi bahwa suaminya-lah penyebab semua rasa sakitnya. Namun sebenarnya, ketika si istri ini terus menggali lebih dalam, ia akan menyadari, bahwa apa yang sebenarnya dirasakannya adalah kesedihan dan kekecewaan. Sayangnya ia tidak pernah mengekpresikan bagaimana ia merasa sendiri ketika suaminya pergi dan bagaimana sulitnya ia menjalani banyak hal tanpa suaminya.

Jadi, daripada berasumsi bahwa pasangan Anda adalah penyebab semua rasa sedih dan rasa sakit Anda, lebih baik jika Anda dapat mengecek apa yang sebenarnya Anda rasakan. Kemudian ungkapkanlah apa yang Anda rasakan pada pasangan Anda dan diskusikan dengannya.

2. “KAU HARUS MEMBUATKU MERASA NYAMAN, KAPANPUN AKU MEMBUTUHKANNYA..”

Menurut Miller, asumsi seperti ini datang dari saat pendekatan awal dengan pasangan kita. Saat itulah saat kita dapat memproyeksikan bahwa: ‘dialah orang yang akan menjaga dan merawatku’.

Namun ahli menyatakan bahwa terlalu menyandarkan diri pada pasangan Anda dapat menjadi sebuah sumber ketegangan yang besar. Cara yang lebih baik adalah Anda belajar dan berusaha untuk meredakan ketegangan dan kecemasan Anda sendiri. Cara ini akan menciptakan sebuah keseimbangan otonomi diri dan kedekatan yang sehat.

Jadi, sebelum Anda meminta pasangan Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda, tanyakan kepada diri Anda sendiri terlebih dahulu, “Bagaimana aku dapat bertanggung jawab dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini..?”

3. “SITUASI INI AKAN TERUS MENJADI SEMAKIN BURUK..”

Ketika ketika Anda dan pasangan Anda sedang mengalami sebuah hal yang sulit, biasanya Anda atau pasangan Anda  akan berasumsi tentang hal yang paling buruk. Hal ini didukung oleh Kathy Nickerson, Ph.D, seorang psikolog klinis di Orang County.

Anda akan berasumsi bahwa kita (pasti) akan terus merasakan kesulitan/merasa sakit lagi, sehingga kemudian Anda akan berpikir: Ya sudahlah..persetan..terserah apa yang terjadi.. , dan Anda akan berpikir untuk berputus asa atau melakukan hal yang negatif. Hal ini hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi. Lebih parah lagi, dinamika ini akan berlanjut seolah-olah Anda bisa meramal apa yang akan terjadi nanti, dan jelas hal ini akan semakin membuat semua menjadi lebih buruk lagi.

Pasangan kita seharusnya merasa aman dan nyaman dengan Anda, juga pada saat berada pada masa-masa sulit, jadi sebaiknya Anda dapat mencoba untuk bersikap baik dan berbelaskasihan (karena rasa sayang) kepada pasangan Anda. Bersikaplah yang ramah, dan berpikirlah tentang perasaan pasangan Anda.

Kita cenderung akan berpikir bahwa kita-lah yang memliki masalah paling besar, bahwa kita-lah yang paling banyak berkorban, dan kita-lah yang paling dirugikan. Seringkali kita lupa, bahwa kita semua memiliki masalah dan memiliki rasa sakit/kesedihan, dan (sebenarnya) kita semua sedang mencoba untuk berbuat yang terbaik dari yang kita bisa. Seringkali tidak terpikirkan oleh kita, bahwa pasangan kita pun sedang berusaha seperti kita, mengusahakan yang terbaik bagi kita..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s