RUANG KOSONG

Pada suatu hari saya sedang bertandang ke rumah seorang teman. Rumah tersebut dihuni sekitar 7 orang anggota keluarga, termasuk di antaranya seorang balita dan seorang anak pada usia remaja awal. Situasi yang tampak adalah situasi yang biasa ada di keluarga manapun. Ada suara anggota keluarga yang mengobrol, ada suara televisi, ada suara bersenandung, ada suara seorang anggota keluarga yang berteriak karena ulah anak balitanya, ada suara eyang yang terkekeh karena ulah cucunya, dan sebagainya. Pokoknya sepertinya tidak ada yang luar biasa dari serentetan “adegan” yang terjadi. Oleh karenanya, pada awalnya saya tidak merasakan sesuatu hal pun yang penting dari situasi yang ada. Namun, setelah saya keluar dari situasi tersebut, barulah saya dapat merasakan sesuatu, alias “ngeh” dengan apa yang terjadi, dibalik situasi yang tampak. Satu kata: KOSONG.

Saat kita bersama putra-putri kita pada suatu waktu, pada sebuah ruang, seringkali kita tidak menyadari apa yang sedang kita “ciptakan’ dari rentetan situasi yang sedang terjadi saat itu, dimana kita ada di dalamnya. Padahal sebenarnya, tidak ada satu hal pun yang akan terlewat untuk setiap kesempatan yang mungkin ada, bagi pembentukan karakter putra-putri kita, pada setiap momen yang terjadi saat itu. Disadari atau tidak, disengaja atau tidak.

Pada suatu sore, mungkin Anda sedang menonton televisi dan putra/putri Anda sedang belajar di meja makan. Anda mungkin mendengarnya bersenandung, atau sedang membaca keras-keras buku pelajarannya dengan nyelélék. Seringkali kita malah merasa tenang dan bahkan merasa aman jika mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Karena berarti kecil kemungkinan mereka akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa menghabiskan kesabaran kita. Sehingga, kemudian kita, karena layaknya tadinya memiliki beban, pada saat itu kemudian tanpa sadar segera meletakkan beban itu. Dan itu berarti kita merasa sah untuk melepaskan fokus kita dari mereka. Tanpa kita sadari, saat itulah banyak momen dan kesempatan akan terlewat, yang sebenarnya bisa kita manfaatkan untuk menanamkan berbagai hal kepada mereka.

Itu jika mereka sedang tidak secara langsung terhubung dengan kita, karena mereka sedang sibuk dengan diri mereka sendiri. Bisa kita bayangkan seberapa banyak momen dan kesempatan yang terlewatkan jika kita tidak pandai menangkap dan memanfaatkannya, saat mereka benar-benar sedang terhubung langsung dengan kita, saat mereka berkegiatan bersama kita?

Sebisa mungkin, kita jangan melepaskan fokus kita dari anak-anak kita. Karena semestinya kita diharapkan dapat menangkap setiap kesempatan di balik setiap momen atau kejadian, untuk bisa memanfaatkannya menjadi sebuah ajang untuk memasukkan sesuatu, untuk menanamkan sesuatu pada anak-anak kita. Sayangnya, seringkali tanpa kita sadari, apa yang sebenarnya kita tahu seharusnya kita sampaikan pada anak-anak kita, hanya kita biarkan menari-nari dan bersuara di benak kita. Berjuta alasan membuatnya tidak kita sampaikan pada mereka. -Ah, mereka paling sudah tahu.., -Hm, mungkin besok sajalah ..-Aduh,nunggu si Adek agak gedean aja lah.., -Alah itu bukan hal besar kali ya.., -Kayanya aku aja yang melebih-lebihkannya..,dan sebagainya..dan sebagainya. Padahal, tanpa kita sadari, dengan demikian kita telah melewatkan sebuah kesempatan (lagi) untuk mengajarkan sesuatu, untuk menanamkan sesuatu pada mereka. Dan, bisa jadi apa yang seharusnya bisa tersampaikan tadi, suatu hari di depan mereka nanti akan menjadi sebuah hal yang akan membantu mereka saat menyelesaikan sebuah masalah sederhana, atau bahkan bisa menjadi sebuah cahaya saat mereka membutuhkan sebuah pencerahan ketika mereka harus menyelesaikan sebuah masalah yang lebih berat.

Kita tidak pernah tahu. Yang bisa kita lakukan adalah membekali mereka dengan peralatan apapun yang kita bisa temukan, membekali mereka dengan peralatan apapun yang kita miliki. Sehingga mereka akan cukup terbekali, saat mereka harus menghadapi dunia mereka, yang sederhana, atau yang nanti semakin kompleks. Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan sebagai orang tua adalah menganggap mereka sudah tahu. Padahal tidak. Mereka tidak datang ke dunia ini dengan dibekali kamus atau ensiklopedia atau buku pintar tentang kehidupan. Bagi kita orang dewasa, menjadi tidak berpengetahuan atau tidak memiliki banyak informasi adalah pilihan kita sendiri. Namun bagi mereka, terisi atau tidaknya tanki pengetahuan, atau ilmu, atau informasi mereka adalah tanggung jawab kita. Selama mereka masih di bawah bimbingan kita.

Sampaikan, tanamkan, berikan, tunjukkan, bagi dan ajarkan, semua hal yang kita ketahui pada anak-anak kita. Komunikasikan secara verbal. Jangan malas berkata-kata, karena mereka sangat membutuhkan semua informasi yang belum mereka ketahui. Tentang suatu hal sederhana, hal yang rumit, dengan kalimat pendek, ataupun harus dengan kalimat yang cukup panjang. Langsung atau tidak langsung, secara verbal kita selalu bisa menanamkan dan mengajarkan sesuatu pada mereka.

Berpikirlah bahwa di dekat Anda ada sebuah spons yang bisa dan akan menyerap semua yang datang dari diri Anda. Karena sebenarnya, misalnya saja saat Anda sedang melintasi ruangan dimana putra/putri Anda sedang belajar, jika pun saat itu mereka sedang membaca atau menutup telinga mereka dengan earphone dari telepon seluler mereka, jangan berpikir bahwa apa yang sedang Anda lakukan tidak akan masuk dalam memori mereka. Karena mereka sadari atau tidak, mereka sengaja atau tidak, apa yang terjadi di sekeliling mereka akan mereka serap. Terlebih jika itu datang dari individu yang dekat dengan mereka, yang sangat berpengaruh pada mereka, seperti kita orang tua mereka. So watch out, kita harus selalu berhati-hati dengan semua sikap dan perilaku kita. Yup, karena anak tidak selalu melakukan apa yang kita katakan, akan tetapi anak akan selalu melakukan apa yang kita contohkan.

Talk. Bicara. Komunikasikan. Sampaikan. Jangan dengarkan suara-suara di benak Anda yang bisa membuat Anda mengurungkan niat Anda untuk menyampaikan sesuatu pada putra-putri Anda. Jangan tunda lagi. Karena -mungkin- waktu yang ada tidak sepadan dengan banyaknya hal yang harus kita sampaikan. Waktu mereka di samping kita tidak selamanya. Segera tanpa kita sadari mereka akan berjalan menuju dunia mereka sendiri, yang tentu pada waktunya akan berjauhan dengan kita. Karena semua dari kita membutuhkan masukan, butuh informasi. Sebagai bahan pemikiran, pertimbangan, sebagai bahan untuk membaca dan menjawab situasi di sekeliling kita, bahkan terlebih jika kita anak-anak.

Ruang kosong. Adalah saat kita sebagai orang tua pada suatu waktu, pada sebuah ruang, tidak mampu menangkap dan kemudian mengisi setiap momen dan kesempatan yang tercipta saat kita bersama anak-anak kita. Menangkap dan mengisinya dengan berbagai hal yang harus kita tanamkan, berikan, tunjukkan, bagi dan ajarkan pada mereka. Secara verbal atau tidak, dengan kesadaran bahwa apapun yang datang dari kita akan tertangkap dan terserap dalam benak mereka.

Ruang yang sarat? Tentunya saat kita sebagai orang tua mampu memanfaatkan dan mengisi setiap momen dan kesempatan yang tercipta antara kita dengan anak-anak kita, pada suatu waktu, pada sebuah ruang. Memanfaatkannya sebagai wahana untuk membentuk karakter dan menanamkan ketrampilan untuk menjalani kehidupan mereka. Verbal atau tidak? Semua harus kita lakukan, sesuai dengan kesempatan yang terjadi.

Ortu: Adit, kenapa tadi ga tertawa waktu kita foto..?
Anak: Aku ga seneng disini..
Ortu: Mmm..gitu ya..Ok,papa ngerti. Tapi, Adit kan bagian dari keluarga, dan itu berarti Adit harus tertawa waktu kita foto bareng..
Anak: Tapi kenapa aku harus pura-pura seneng dengan ketawa kalau aku ga seneng?
Ortu: Karena ketawa itu salah satu cara buat menyesuaikan diri..cara agar kita bisa diterima sama lingkungan kita.. Jadi,meskipun kita sebenarnya mungkin lagi ga pengen ketawa, kadang kita harus ketawa..Ok? Jadi,ayo kita ulang sekali lagi foto bersamanya,kali ini,harus tertawa! Ok? Yok!

So, Anda ingin menciptakan ruang yang sarat, atau Anda akan membiarkan ruang-ruang yang ada (tetap) kosong..? Semua tentunya terserah Anda. Selamat mencoba, tidak pernah ada kata terlambat. Karena selalu tetap ada sesuatu untuk dipelajari, dan akan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki.

Anda tahu, anak seperti apa, dan kehidupan seperti apa nanti yang akan menyertai anak-anak kita jika kita mampu menciptakan dan memberikan masukan, obrolan, dan contoh yang baik dan berkualitas pada mereka?😉 Anda boleh berharap. Jika Anda mau atau sudah mulai melakukannya, tunggu saja nanti saatnya memetik buahnya. Insya Allah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s