Wanita dan Kebahagiaan Pribadi..

Sejatinya, setiap dari kita memiliki sebuah ‘tugas’ utama bagi perkembangan diri kita masing2. Tugas itu adalah untuk membuat diri kita bisa merasa bahagia dan bisa merasa ‘terpenuhi’ serta ‘puas’ dengan diri kita sebagai sebuah pribadi. Sehingga jika saja kita ‘dilepaskan’ atau ‘terlepas’ dari keterikatan dan hubungan apapun dari siapapun, kita akan bisa tetap baik-baik saja, jika rasa bahagia, terpenuhi, dan puas tadi berhasil kita capai.

Terjaminnya kebutuhan bahagai, terpenuhi, dan puas ini bergantung pada usaha kita dalam ‘melayani’ kebutuhan pribadi kita. Seberapa jauh kita (tetap) mampu memberikan kesempatan bagi pribadi kita untuk menjadi diri kita, diantara berbagai peran kita dalam kehidupan dan keseharian kita. Seberapa jauh kita masih mampu memenuhi kebutuhan kita untuk ‘bergembira’ dan tersenyum bahagia, terlepas dari keterikatan apapun dengan orang-orang terdekat kita. Seberapa jauh kita mampu memberikan kesempatan pada diri kita untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat diri kita merasa bahagia. Seberapa jauh kita, tanpa mengurangi keseimbangan hubungan dan kebutuhan orang-orang terdekat kita terhadap diri kita, kita mampu untuk memenuhi kebutuhan pribadi kita.

Tugas ini menjadi tugas selama hayat dikandung badan. Dan diharapkan, sudah terpenuhi atau paling tidak sudah menuju ke jalur yang tepat, sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Sebelum kita memasuki sebuah wadah dimana tak terhitung hal yang harus disepakati, ditoleransi, dan dipadukan.

Sebuah sosok yang biasanya sangat rentan terhadap pemenuhan kebutuhan ini adalah para WANITA. Karena biasanya, begitu  memasuki gerbang pernikahan dan (apalagi) kemudian memiliki anak, somehow, wanita dengan sendirinya akan ‘mengarahkan’  kebahagiaan pribadinya kepada kebahagiaan lain, yang terpusat pada SUAMI dan ANAK-ANAK-nya. Tidak menjadi masalah jika kebahagiaan yang terakhir ini sebagai tambahan kebahagian pribadinya (yang diharapkan sudah dimilikinya sebelumnya). Sayangnya, seringkali kebahagiaan yang terakhir ini menjadi pengganti kebahagiaan diri pribadinya. Sehingga pada saat sesuatu terjadi, entah berpusat ataupun dipengaruhi oleh kebahagiaan yang baru ini, maka goyah-lah pribadi wanita ini, karena sumber kebahagiaan yang utama yang seharusnya bisa selalu ada sebagai sebuah sudut penguat dan tempat berlari di saat kapan pun, yakni kebahagiaan pribadi, tidak dimiliki.

Perjalanan pemenuhan kebutuhan ini ada pada dua tahap perkembangan, yakni sebelum jenjang pernikahan diaman ini menjadi tanggung jawab pribadi, dan setelah memasuki jenjang pernikahan sehingga ini menjadi tanggung jawab bersama pasangan.

Bagi Anda Sang Sumber Keindahan dan Bunga-Bunga di dunia ini, pada tahap sebelum jenjang pernikahan, pastikan Anda sebagai seorang WANITA memiliki paling tidak satu hal yang benar-benar menjadi milik Anda pribadi. Sesuatu yang Anda kerjakan karena alasan pribadi, untuk kebahagiaan dan kegembiraan pribadi, dan demi kebutuhan pribadi Anda. Sesuatu yang mampu membuat Anda merasa bangga menjadi diri Anda sendiri. Tidak musti sebuah hal yang besar dan sangat istimewa, atau bisa jadi juga sebaliknya. Bisa jadi apa saja, yang bisa membuat Anda merasa ‘Ini aku banget‘ dan bisa membuat Anda melakukannya berlama-lama hingga lupa waktu, dan membuat Anda lupa semuanya. Sesuatu yang bisa membuat Anda berlama-lama melakukannya sendirian, seolah Anda tidak membutuhkan siapapun🙂

Setelah menikah, pastikan apa yang menjadi milik Anda pribadi tadi tetap Anda miliki dan tetap Anda lakukan. Perkenalkan Suami Anda pada diri Anda yang satu ini, minta dia membantu Anda untuk bisa tetap memilikinya. Bagi para Suami, dukung dan dorong Istri Anda untuk menemukan dan memiliki Kebahagiaan Pribadinya. Dan jika Anda melakukannya, itu berarti Anda menabung bagi kebahagiaan pribadi Anda dan bagi kebahagiaan keluarga Anda..

CARI, TEMUKAN, USAHAKAN, dan PERTAHANKAN Kebahagiaan Pribadi Anda sebagai seorang WANITA. Jika Anda mampu melakukannya, maka InsyaAllah Anda akan tetap menjadi pribadi yang indah, yang mampu memberikan kebahagiaan bagi sekeliling Anda. Tentu terutama pada Suami dan anak-anak Anda🙂 Karena menjadi seorang ISTRI dan seorang IBU, tidak perlu dan TIDAK BOLEH mengurangi atau MENGAMBIL kebahagiaan Anda sebagai sebuah pribadi. Kebahagiaan yang JUSTRU akan menjadi KUNCI bagi tercapainya kebahagiaan orang-orang tersayang Anda, kebahagiaan Suami dan Anak-Anak Anda.. Karena ARTI Anda sungguh besar bagi Suami dan Anak-Anak Anda. Karena Anda seorang WANITA, karena Anda seorang ISTRI, karena Anda seorang IBU..🙂

BAHAGIALAH, demi Kebahagiaan, Keceriaan, dan Kesegaran Anda Pribadi.. Dan demi KEBAHAGIAAN Suami dan Anak-Anak Anda, Keluarga Anda, dan Orang-Orang Terdekat Anda..

Semoga Allah selalu mengaruniakan kebahagiaan di Hati Anda dan di Hari-Hari Anda, para WANITA dan para IBU..

For you Mama, and you Umma Imtinaan-Rahmaan, and you Umma Iko..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s