Pengembangan Karakter dan Citra Laki-Laki yang “Baru”

Selama ini salah satu penyebab bersebrangannya dunia laki dan perempuan yang paling sering dibicarakan, adalah bahwa karena kebanyakan laki-laki berbicara dan bersikap dg cara laki-laki, dan karena dunia ini penuh dg aturan laki-laki.

Pemahaman ini kemudian menimbulkan pemikiran bahwa seolah jurang yang ada tersebut memang ada karena laki-laki memang seperti itulah harusnya adanya, sehingga  sepertinya satu-satunya cara untuk ‘menyatukannya’ adalah dengan harus ‘melompatinya’. Padahal (memang) tidak demikian adanya. Karena (salah satunya) sebenarnya disini adalah masalah kebiasaan yang kemudian terbentuk dan membuahkan sebuah karakter.

Ciri laki-laki yang diharapkan meng-ada saat ini, laki-laki yang lebih peka, terbuka pikiran dan hatinya, yang lebih positif dalam pikir, rasa, dan karsa, yang lebih menggairahkan karena benar-benar seksi dalam hal pikir dan rasa-nya, juga yang lebih mampu menghargai perempuan dalam hal apapun, adalah ciri-ciri laki-laki yang memiliki karakter (positif) yang kuat.

Jika berbicara tentang karakter, maka kita berbicara tentang pendidikan dan bimbingan dari keluarga, yakni di rumah dan oleh orang tua.

Laki-laki dengan karakter yang kuat, lebih dimungkinkan akan terbentuk dari keluarga yang juga memiliki karakter yang kuat, yang mampu mencontohkan dan membimbingnya dengan baik menjadi laki-laki dengan karakter yang kuat nantinya.

Demikian juga sebaliknya, laki-laki dengan karakter minus lebih dimungkinkan terbentuk dari keluarga yang memiliki karakter yang juga minus, yang tentunya kemudian tidak mampu memberikan contoh dan bimbingan untuk membentuka anak menjadi laki-laki dengan karakter yang kuat.

Sehingga titik utama usaha untuk menciptakan laki-laki dengan citra/ciri karakter yang kuat memang harus dimulai dari rumah. Akan tetapi jika dari rumah,tentunya orang tua-lah yang harus jadi terlebih dahulu. Disini sepertinya kenyataannya seperti lingkaran setan. Karena jika orang tua pun belum siap atau belum mampu memiliki karakter yang kuat (positif), lalu dari mana mereka mampu membentuk anak-anak dengan karakter yang kuat? Namun bukan berarti kemudian tidak ada yang dapat dilakukan. Karena jawabannya ada pada Pendidikan Karakter untuk Orang Tua.

Sebagai pelengkap Pendidikan Karakter untuk Orang Tua ini, adalah Pendidikan Karakter untuk Anak dan Remaja.

Tentang laki-laki dewasa yang sudah jadi. Betul, kita tidak bisa membentuk atau merubah laki-laki yang kadung (terlanjur) menjadi laki-laki dengan karakter yang minus menjadi laki-laki dengan karakter positif yang kuat. Akan tetapi dengan pendidikan karakter yang disesuaikan dengan usia dan situasi-kondisi yang ada, karakter yang sudah terlanjur terbentuk ini pun bisa secara perlahan dibalik-kan, menjadi karakter yang lebih positif. Awalnya akan seperti berusaha membalik-kan berputarnya sebuah roda besar, yang sudah sekian lama berputar secara teratur ke sebuah arah, sulitnya setengah mati. Ini saya namakan roda kebiasaan. Sehingga usaha membentuk sebuah/lebih kebiasaan baru (sikap dan perilaku), akan seperti itu juga kesulitan dan beratnya. Namun bukan berarti tidak mungkin. Yang ini jawabannya ada pada Pendidikan Karakter untuk (Laki-Laki) Dewasa.

Jadi, jika pemikiran dan usaha untuk memperbaiki atau pun menciptakan laki-laki baru dengan ciri-ciri seperti di atas dilihat dari kacamata Pendidikan Karakter, maka di dalam Pendidikan Karakter itu-lah sendiri sebenarnya akan tercipta dan ter-turun-kan laki-laki dengan ciri-ciri positif ini. Karena memang laki-laki dengan ciri-ciri seperti itulah yang menjadi salah satu tujuan Pendidikan Karakter. Atau dengan kata lain, mau tidak mau, laki-laki dengan ciri-ciri positif seperti yang diharapkan saat ini-lah yang akan menjadi salah satu hasil dari Pendidikan Karakter.

Karena jika memandang manusia dari adanya kemampuan untuk bisa menghargai, untuk lebih peka, untuk dapat berpikir, bersikap, dan berperilaku positif, pada sesama pun pada alam semesta, maka dalam dunia ini hanya ada dua jenis manusia, dan bukan masalah laki atau perempuan lagi. Karena memang hanya ada dua, yakni Manusia dengan Karakter Positif dan Manusia dengan Karakter Negatif. Manusia Ber-Akhlak dan Manusia Tidak Ber-Akhlak.

Tanpa mengecilkan arti  apapun, saya pikir memang hanya itu. Wallaahua’lam.

Jadi iya, Citra Laki-Laki Baru, mungkin dan bisa untuk diupayakan dan diwujudkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s