Menguak Kondisi Transseksual

P r o l o g

“Aduh bow..ike emang sukka sama tuh cowo..tapi ike tetep cowo tulen tahu..!”

“..Mmm..iya…aku cowo, aku suka dandan, pake pakaian cewe, pake make up, and performing a dance gitu..tapi..ga tuh,..aku ga terangsang kalo pas pake pakaian cewe..biasa-biasa aja..seneng aja bisa performing sesuatu and orang seneng ngeliatnya.. ”.

“Ga lah mas..itu menyalahi kodrat kalee..saya cukup bahagia dengan begini-begini saja..toh saya tetap ada yang mencintai, menyayangi.. Kenapa saya harus berubah??..”.

“Aku ga tahu..aku ga pernah suka mengaca. Aku ga suka sama tubuhku. Itu bukan aku. Aku berharap itu semua bisa berubah, seperti yang aku rasakan. Aku bukan laki-laki. Meski tubuhku laki-laki.., di dalam diriku aku perempuan..”.

“Iya, aku suka sama cewe..orang bilang aku maskulin.. Tapi aku ga pengen operasi kok, aku cewe tulen..aku nyaman-nyaman aja dengan kondisiku sebagai cewe..”.

“Ga tuh..aku cowo tulen..aku punya istri kok, aku udah merit.. Aku cuman kadang suka pake pakaian cewe, trus ..mm..gitu deh..kalo pas pake aku bisa terangsang gitu…”.

“..Apa yang tampak dari luar ini, bukan diri saya yang sebenarnya.. Seumur hidup saya merasa tertekan, stress, bingung.. Capek rasanya berpura-pura menjadi orang lain.. Saya akan melakukan apa saja agar diri saya bisa berubah seperti yang sebenarnya saya rasakan…apapun kata dunia”…

“Saya sadar bahwa saya laki-laki..saya ga ingin merubahnya.. Saya hanya merasa lebih pas dengan peran-peran sebagai cewe..dan saya merasa sifat-sifat saya memang lebih ke-cewe-cewe-an..dan saya emang suka sama cowo..”.

Apakah Anda bisa mengenali dengan tepat apa kondisi masing-masing individu dalam ilustrasi di atas?

Besar kemungkinan sebagian besar dari kita akan bingung, atau kalau pun tidak bingung,biasanya lebih banyak  dari kita yang akan mengidentifikasi kondisi-kondisi di atassecara tumpang tindih. Karena memang kondisi-kondisi di atas tampak hampir serupa. Meski sebenarnya masing-masing sangat berbeda.

Terlebih satu diantaranya, yang dianggap sebagai kondisi yang terberat. Transseksual. Atau yang juga dikenal sebagai Gangguan Identitas Gender.

 

Kebanyakan dari kita tidak pernah harus menjawab pertanyaan seperti:  “Kamu laki-laki atau perempuan sih..?”; Karena apa yang dirasakan tentang jenis kelamin yang ada memang berkesuaian. Karena kesadaran mental  tentang jenis kelamin yang ada memang sesuai dengan ciri-ciri fisik yang dimiliki.

Namun terdapat sekelompok kecil individu, dimana jenis kelamin mereka dirasakan salah total, karena mereka merasa berjenis kelamin berlawanan dengan jenis kelamin yang didasarkan pada karakteristik  fisik mereka.

Mereka inilah yang dikenal dengan sebutan Transseksual. Mereka berbeda dengan individu-individu dengan kondisi lain yang tampaknya sama. Mereka memiliki pengakuan yang mutlak dan tidak dapat diubah bahwa mereka 100% berjenis kelamin berlawanan dengan jenis kelamin yang didasarkan pada karakteristikfisik mereka. Dan secara fisik, genetik, dan kadang hormonal, mereka normal.

Transseksual

Transseksual adalah individu yang mengalami kondisi Transseksualisme atau Gangguan Identitas Gender , sebuah kondisi yang didefinisikan sebagai adanya ke-tidakkongruen-an antara identifikasi diri sebagai laki-laki atau perempuan (identitas gender) dan ciri-ciri secara fisik yang dimiliki pada seseorang. Pada kasus Transseksualisme, individu yang mengalami membutuhkan penyesuaian ciri-ciri fisik mereka dengan terapi hormon dan operasi agar tercipta keharmonisan atau ke-kongruen-an antara tubuh yang dimiliki dengan identitas gender yang mereka miliki. Individuindividu tersebut dikenal sebagai Trans People, yakni Trans Men (Female to Male/FtM) dan Trans Women (Male to Female /MtF).

Transseksual berbeda dengan Homoseksual,Transvestit,atau Waria.

Tidak terdapat perhitungan statistik yang pasti tentang rasio kejadian kondisi transseksual ini. Namun perkiraannya adalah 1:30.000 pada laki-laki dan 1:100.000 pada perempuan (US) atau menurut sumber yang berbeda adalah 1:10.000 pada laki-laki dan 1:30.000 pada perempuan (Belanda).

Terjadinya Kondisi Transseksual

1. Kondisi Hormonal

Gender/jenis kelamin sebuah janin adalah sesuatu yang dapat berubah karena apapun yang dapat mengubah keseimbangan hormonal dalam suplai darah janin, dimana bahkan sebuah ketidakseimbangan kecil dapat menyebabkan kabur-nya atau berpindahnya garis antara gender. Atau dengan kata lain gender adalah sesuatu yang sangat sensitif untuk bisa mengalami sebuah perkecualian atau kekhususan .

Kondisi Transseksual timbul ketika terjadi produksi yg abnormal dari hormon-hormon tertentu oleh otak. Keabnormalan yang timbul selama kehidupan fetal dan post-natal, mungkin akan tereflek-sikan pada masa dewasa. Kita mengalami pra-pemrograman ke arah manhood/womanhood oleh keseimbangan hormon-hormon selama masa-masa kritis pertum-buhan pra-natal.

Skenario yang berlaku pada kebanyakan dari kita semua karena ini berlaku secara mayoritas, selalu diasumsikan adalah benar bagi semua bayi, bahwa apa yang terlihat adalah apa yang “didapatkan”/apa yang terjadi/apa yang ada. Namun fakta membuktikan bahwa identitas gender bayi tidak dapat dilihat dengan ‘jelas’ secara akurat saat kelahiran, karena identitas gender bayi berkembang secara “terpisah” bergantung kepada otak, sehingga apa yang terlihat  terbukti tidak selalu apa yang “didapatkan”/apa yang terjadi/apa yang ada. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bahwa identitas gender tidak selalu konsisten dengan jenis kelamin seseorang.

Pada saat skenario di atas tidak terjadi atau mengalami perkecualian, kondisi itulah yang terjadi pada individu transseksual, dimana identifikasi yang dilakukan oleh otak atas gender yang dimilikinya tidak sesuai dengan karakteristik eksternal atau jenis kelaminnya. Sehingga seorang transseksual merasa identitas gender yang dimilikinya berlawanan dengan jenis kelamin yang  dimilikinya, yang didasarkan pada genital yang dimilikinya.

2. Kondisi Otak

Ditemukan bahwa area kecil otak bernama central region of the bed nucleus af the stria terminalis (BSTc) adalah lebih besar pd laki-laki daripada perempuan.  BSTc dari enam transseksual laki-laki ke perempuan adalah sama kecilnya dengan BSTc pada perempuan, sekitar separuh dari volume BSTc pd laki-laki lain (Zhou JN, Hofman MA, Gooren LJ, Swaab DF, 1995).

Penelitian selanjutnya didasarkan pada penelitian diatas. Penelitian ini menemukan bw dr 42 Subjek yang diteliti, tanpa mempertimbangkan  orientasi seksual: laki-laki memiliki hampir dua kali jumlah somatostatin neuron dibandingkan perempuan. Jumlah neuron di dalam BSTc transseksual laki-aki ke perempuan (male-to-female transsexuals) sama dengan jumlah neuron di dalam BSTc pada perempuan.  Sebaliknya, jumlah neuron pada transseksual perempuan ke laki-laki (female-to-male transsexuals) ditemukan berada dlm rentang jumlah neuron pada laki-laki (FPM Krujver, J-N Zou, CW Pool, MA Hofman, LJG Gooren, dan Dick F Swaab).

Selain kemungkinan akibat kekhususan dari perkembangan fisik dari otak, transseksualisme juga dimungkinkan karena adanya kondisi khusus dalam perkembangan syaraf di otak. Ditemukan bahwa bagian otak manusia yang menentukan kesadaran identitas gender pada seseorang, ternyata membutuhkan waktu untuk maksimal berkembang sampai dengan usia awal masa dewasa. Ini berarti bahwa pada saat identitas kelamin bayi telah “diputuskan” oleh ahli medis saat kelahiran bayi, proses perkembangan kesadaran identitas gender bayi tersebut masih belum selesai. Sehingga meskipun kecil, terdapat sebuah kemungkinan dimana perkembangan kesadaran tentang identitas gender ini tidak berkesusaiian dengan ciri fisik yang telah dimiliki oleh individu tersebut (Swaab & Fliers, 1985; Allen & Gorski, 1990; Swaab et al, 2001).

Kriteria diagnostik transseksualisme (DSM IV)

  1. Adanya identifikasi diri yang persisten dan kuat pada seseorang, yang merasa bahwa dirinya adalah anggota gender/jenis kelamin berkebalikan dari gender/identitas kelamin yang didasarkan pada ciri-ciri fisik.
  2. Perasaan tidak nyaman yang persisten tentang kondisi di atas (No.1)
  3. Gangguan ini tidak berhubungan dengan kondisi interseks.
  4. Gangguan ini menyebabkan tekanan psikologis/klinis yang signifikan atau menyebabkan berkurangnya kualitas dan kekuatan pada aspek sosial,pekerjaan,atau area-area fungsional lain yang penting.

Jika melihat perkembangan penemuan-penemuan tentang kemungkinan penyebab kondisi Transseksual, kriteria yang ditentukan untuk menentukan diagnosa kondisi ini sebenarnya sudah tidak sesuai lagi. Karena penemuan-penemuan terakhir membuktikan bahwa kondisi ini memiliki latar belakang kondisi biologis atau fisik seseorang, dan bukannya kondisi psikologis seseorang.

Proses Yang Harus Dijalani Transseksual

  1. Konseling Psikologis
  2. Real Life Test
  3. Terapi Hormon
  4. Operasi Penyesuaian

Kondisi Transseksual sulit, bahkan mustahil untuk didiagnosa pada usia dini. Sebagian individu mulai menunjukkan indikasi perilaku selama masa kanak-kanak, namun jarang bisa terdeteksi. Jika dikenali sejak dini, treatment dapat diberikan sebelum karakteristik seksual sekunder berkembang saat pubertas.

Penemuan-penemuan para ahli yang menyetujui bahwa kondisi transseksual timbul sangat dini dan sebelum seorang anak mampu memilih, menunjukkan bahwa transseksual tidak membuat pilihan atas apa yang terjadi pada dirinya, namun lebih tepat apabila dikatakan bahwa ‘pilihan’ tersebut telah diputuskan untuk dirinya melalui banyak penyebab yang mengawali saat kelahirannya dan, melampaui kontrol yang dimilikinya.

Pada akhirnya transseksual akan mencari bantuan atas kondisi dirinya, dimana ia akan mendapatkan terapi hormonal dan operasi. Bagi mereka hal tersebut bukan hanya masalah penampilan yang membuat mereka ‘mengubah’ dirinya. Namun lebih penting adalah sebuah kebutuhan internal yang kuat, untuk mengakhiri ketidakharmonisan antara otak yang mereka miliki dengan tubuh mereka. Sebuah kebutuhan untuk menjadi complete, seseorang yang utuh, kebutuhan untuk menjadi apa adanya dan tidak lagi ber’topeng’. Sampai pertolongan ini bisa didapatkan, ketidaknyamanan yang dialami terus berlangsung sedemikian rupa sehingga individu yang bersangkutan mengalami tekanan dan kesulitan hidup yang berat dan kadangkala, mengarah kepada keinginan bunuh diri.

Operasi penyesuaian bukanlah sebuah langkah loncatan yang tiba-tiba. Akan tetapi lebih merupakan sebuah proses yang lama, menyakitkan, dan sebuah hasil akhir dari sebuah proses panjang.

E p i l o g

Jika –tentunya- sulit bagi anda untuk membayangkan atau memahami kondisi dan tekanan yang dialami transseksual, mungkin anda bisa bayangkan diri anda, seperti yang anda miliki saat ini, namun anda memiliki tubuh dengan jenis kelamin berlawanan dari jenis kelamin yang anda rasakan.

Seluruh dunia berpikir anda berjenis kelamin kebalikan dari yang anda rasakan, sejak anda lahir. Semua orang memperlakukan anda seperti penampakan anda. Anda tidak diijinkan melakukan hal-hal yang anda sukai, atau apa yang anda anggap justru normal/biasa bagi anda. Dan ketika anda mencoba untuk menjadi diri anda sendiri yang sebenarnya, anda mendapat peringatan, kecaman, atau hukuman. Ketika anda mencoba untuk bersikap seperti penampakan anda, anda merasakan JAUH lebih sulit dari yang anda bayangkan, karena itu BUKAN anda, dan anda tidak memahaminya.

Lebih parah, anda tahu seperti apa sebenarnya tubuh anda seharusnya. Anda tahu bagian mana yang seharusnya ada, dan bagian mana yang seharusnya tidak ada. Sekujur tubuh anda, anda rasakan salah. Anda tahu bagaimana seharusnya yang anda rasakan, namun tidak demikian adanya. Anda harus masuk ke kamar mandi yang salah, anda harus bersikap dan berperilaku yang salah, anda harus memasuki kelompok yang salah.  Semuanya salah, dan anda merasa seperti orang aneh selamanya. Akhirnya, sepanjang yang anda ketahui, tidak ada cara untuk bisa membuat segalanya menjadi benar. Jika anda bersikap sebagai diri anda, orang-orang di sekitar anda membenci anda. Jika anda bersikap seperti penampakan anda, anda akan membenci diri anda sendiri.

Jika anda saat ini mungkin mulai mendapatkan sedikit gambaran tentang kondisi transseksual, mungkin anda akan mulai bisa memahami kondisi, dan juga langkah-langkah yang harus diambil oleh seorang transseksual. Dan mungkin, anda tidak lagi menganggap aneh atau mengecam mereka. Mungkin anda bisa mempercayai, mungkin tidak seorang transseksual pun yang akan memilih untuk menjadi transseksual, karena beratnya kondisi yang harus mereka alami. Atau niscaya mereka akan memilih untuk tidak menjadi transseksual, jika mereka memiliki pilihan atas kondisi tersebut.

_______________________________

Makalah Seminar “TRANSSEKSUAL – Who is in Your Body?”
Hotel Panghegar Bandung, 5 April 2009
Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung

 

 

 

3 thoughts on “Menguak Kondisi Transseksual

  1. Hi there! .. Salah satu yg paling ditunggu kedatangan n komentarnya, WELCOME to my Playground!..
    Thx for the comment, glad it can help🙂
    Ur most welcome mb Arum..

  2. Subhanallah, saya masih terus mencubiti pipi saya berharap tidak terbangun Dari mimpi yang saya impikan sejak 26 tahun yang lalu. Amazing Dan speechless dapat langsung bertemu,bertatap muka,ngobrol sampai guyon bersama Mas,,,,
    Terimakasih atas semuanya juga kang Ega, semoga Allah SWT dapat melimpahkan barokah yang Lebih yaa…..amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s