Mengembangkan Kecerdasan Emosional pada Anak

People with high EQ are more successful than people with high IQ.

Betul. Karena saat ini, individu-individu yang dicari dan dapat dipastikan akan mampu melakukan fungsi-fungsi dan tugas serta kewajiban dengan memuaskan, bukanlah individu-individu dengan IQ yang tinggi. Akan tetapi individu-individu dengan Kecerdasan Emosional yang tinggi.

Individu-individu seperti ini, diantaranya akan memiliki ciri-ciri:

  • Mampu mengekspresikan perasaannya secara positif, jelas, dan secara langsung (paling tidak dengan 3 kata) : “..Saya merasa..
  • Tidak takut untuk mengekspresikan perasaannya.
  • Tidak dikuasai oleh emosi- emosi negatif seperti:  rasa takut, cemas, rasa bersalah, kekecewaan, merasa tidak mampu, merasa tidak memiliki harapan, ketidakmandirian, dsb.
  • Mampu membaca dan memahami komunikasi non-verbal
  • Mampu menyeimbangkan perasaannya dengan pemikirannya, logika, dan kenyataan.
  • Berani dan mampu membiarkan Emosi/Perasaan yang dimilikinya untuk menuntunnya ke arah pilihan-pilihan dan kebahagiaannya.
  • Bertindak dengan didorong oleh hasrat yang dimilikinya, dan bukan karena kewajiban, rasa bersalah, ataupun karena paksaan.
  • Mandiri, percaya diri, menjunjung nilai-nilai moral yang tinggi.
  • Memiliki motivasi dari dalam diri.
  • Cenderung optimis namun juga realistis, dan tetap bisa merasa pesimis.

Tampak terlalu indah? Tapi percaya atau tidak, orang-orang semacam ini benar-benar ada. Dan iya betul, mereka berkiprah dan ikut menghiasi dunia ini dengan amat indahnya🙂 Anda menginginkan anak dengan ciri-ciri seperti diatas dengan Kecerdasan Emosional yang tinggi?

Terdapat beberapa hal penting yang berhubungan erat dengan Kecerdasan Emosional.

  1. Kemampuan seseorang untuk mengenali emosi/perasaaan yang dialaminya.
  2. Kemampuan seseorang untuk mengkomunikasikan emosi/perasaan yang dialaminya.
  3. Kemampuan seseorang untuk mengenali emosi/perasaan yang dialami orang lain.
  4. Kemampuan seseorang untuk menyesuaikan dirinya dengan emosi/perasaan yang dialami orang lain.

Semua kemampuan di atas harus dikembangkan dan dipupuk sejak usia dini. Pada usia sedini mungkin, anak sebaiknya dibantu untuk dapat mengenali apa yang dirasakannya. Tampaknya soal sepele. Namun tanpa disadari, hal tersebut bukan hal yang biasa dalam kebiasaan keseharian kita.

Kita memiliki kecenderungan untuk tidak menanyakan apa yang dirasakan, akan tetapi cenderung biasanya menanyakan apa yang sedang dipikirkan, atau sesuatu seputar kegiatan berpikir .

  • ..Menurutmu, sebaiknya apa yang harus kita lakukan..?
  • ..Apa sih yang sedang kau pikirkan..?
  • ..Kira-kira, setelah ini kamu akan bersikap seperti apa..?

Kepada anak-anak pun kita cenderung untuk tidak memperdalam pembicaraan mengenai apa yang sedang dirasakan anak. Secara tidak sadar kita cederung untuk memangkas hal-hal yang berhubungan dengan emosi/perasaan anak.

  • ..Aduh..jatuh ya sayang..?Siapa yang nakal..?
  • ..Lho, kok nangis..?..sini-sini mama gendong..sh..sh..sh..udah jangan nangis lagi..
  • Adek kok marah-marah gitu..?mama ga suka ah..udah..mama ga sayang lagi sama adek ah kalo gitu..

Dalam rangka memupuk dan mengembangkan Kecerdasan Emosional ini, orang tua harus mampu membimbing anak untuk bisa mengenali Emosinya, untuk bisa mengenali apa yang dirasakannya. Cara yang bisa dilakukan adalah:

  • Berikan pertanyaan seputar apa yang dirasakan anak.
  • Jika pada awalnya anak belum mampu mengenali apa yang dirasakannya karena belum terbiasa, berikan contoh/pilihan perasaan yang mungkin dialaminya: ..Adek sedih?..atau adek marah..?, atau: Kakak marah..? atau kakak bingung mau ngomong apa..? Untuk dapat melakukan ini, orang tua harus peka dengan perubahan ekspresi, sikap, dan perilaku anak.
  • Jika cara ini selalu dilakukan, pada saatnya nanti anak akan mampu mengenali apa yang dirasakannya. Pada tahap ini anak akan mulai mengiyakan atau menolak jika orang tua menyodorkan beberapa pilihan Emosi/Perasaan padanya. Jika anak sudah mampu melakukan ini maka anak sudah siap menginjak tahap selanjutnya.

Selanjutnya jika anak sudah mampu mengenali apa yang dirasakannya, orang tua harus mampu membimbing anak untuk mengkomunikasikan emosinya atau apa yang dirasakannya. Cara yang bisa dilakukan:

  • Berikan pertanyaan langsung tentang apa yang dirasakannya: ..Adek kenapa to sayang,..kok daritadi teriak-teriak ngomognya sama kakak..? Atau: ..Kakak kenapa ya..kok ga ada suaranya dari tadi..🙂..
  • Jika anak selalu dibimbing tanpa henti, pada saatnya nanti anak akan mampu mengkomunikasikan Emosinya atau apa yang dirasakannya: Adek ga suka sama kakak..daritadi nggodain terussss…! Atau: ..Aku sedih karena ditinggal pergi papa..

Jika anak sudah mampu melakukan dua tahap di atas, bisa dipastikan anak akan cenderung mudah untuk diajak memahami atau mengerti apa yang dirasakan orang lain disekitarnya. Karena selalu rumusnya sama:

Setiap dari kita memiliki PR yang harus kita selesaikan dengan diri kita sendiri. PR itu dulu harus kita selesaikan. Karena kita tidak akan pernah mampu mengolah apapun di luar diri kita, jika kita belum mampu mengolah hal yang sama dari dalam diri kita..

Jika anak telah mampu mengenali dan mengkomunikasikan Emosi dan Perasaannya, maka anak akan dengan mudah untuk kita ajak mengenali dan memahami apa yang dirasakan/dialami orang lain. Pada titik ini, anak akan kita ajarkan untuk berempati. Anak akan kita ajak untuk menempati posisi orang lain yang sedang mengalami sesuatu, sehingga ia akan mampu untuk bisa merasakan Emosi/Perasaan apa yang sedang dialami orang lain.

Yang kemudian diharapkan dapat dicapai anak adalah, anak akan mampu menempatkan dirinya dengan sebaik-baiknya, sejalan dengan apa yang sedang dialami orang lain. Bisa dibilang secara sederhana, titik ini merupakan salah satu titik tertinggi yang -sangat- diharapkan bisa dikuasai seseorang. Betul, bukan hanya seorang anak. Karena pada kenyataannya, jika kita perhatikan, mungkin tak terhitung orang (dewasa) yang ternyata belum mampu melakukan hal ini. Sehingga bisa dipahami jika kemudian kenyataan menunjukkan lebih banyak orang menjadi tidak mampu mencapai kesuksesannya dengan maksimal, meski menurut angka, mereka memiliki nilai prestasi dan atau nilai IQ yang tinggi.

Last but not Least. Anda sebagai orang tua harus mampu menjadi contoh. (Lagi??). Haha..iya, lagi.. Anda dengan pasangan Anda harus mampu memberikan contoh dalam mengkomunikasikan perasaan Anda, satu sama lain, dan bukan diam atau mengejawantahkannya dengan melakukan-nya. Karena jika kita tidak mampu mengkomunikasikan Emosi/Perasaan, maka -pasti- Emosi/Perasaan tadi akan tersimpan atau keluar lewat perilaku kita.

Iya betul, jika Anda merasa belum mampu, berarti Anda juga harus mulai belajar untuk mengikuti langkah-langkah di atas. Karena memang, seperti yang saya sampaikan diatas, soal Kecerdasan Emosional ini, akarnya sejak usia dini. Atau berarti jika Anda merasa dan sadar belum mampu melakukannya, besar kemungkinan Anda belum pernah benar-benar mendapatkannya.

Masih menginginkan anak-anak dengan ciri-ciri seperti di atas? Anda tahu artinya apa..🙂

Selamat berjuang.

2 thoughts on “Mengembangkan Kecerdasan Emosional pada Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s