Dalang dan Wayangnya

Saat berbicara/mengobrol dengan saudara dan kerabat tentang masalah sebagai orang tua, Ibu saya sering mengatakan, “Dalang kudu menang,..ora oleh kalah karo wayange..“..atau dalam bahasa Indonesianya: Seorang dalang harus menang dan tidak boleh kalah dari/saat melawan wayangnya.

Dulu, hanya sepintas saja kalimat tersebut masuk ke telinga saya. Namun setelah beranjak dewasa dan kebetulan belajar dan menggeluti dunia parenting, saya baru bener2 ‘ngeh‘ dengan arti dan maksud kalimat tersebut. Dan saya kemudian menyadari, bagaimana besarnya kalimat tersebut telah melandasi sikap dan keyakinan Ibu, sebagai orang tua yang selalu (berusaha) untuk kuat dan terus berjuang dan mengusahakan yang terbaik dalam mendampingi anak-anaknya.

Tak terhitung tantangan yang harus dihadapi orang tua dalam mendampingi,membimbing,dan mendidik anak2nya. Manalagi tidak ada sekolah khusus bagi orang tua. Masih mending, jika setiap bayi yang datang ke dunia ini dilahirkan dengan menggenggam sebuah buku Manual tentang bagaiman tata cara terbaik untuk membesarkannya. Satu hal yang sering tidak dimiliki oleh orang tua saat ini, adalah adanya keyakinan dan kepercayaan diri, bahwa mereka akan mampu menyelesaikan tugas sebagai orang tua dengan baik dan sukses.

Dalam perjalanannya, orang tua tidak jarang merasa “kehabisan amunisi”, tidak tahu harus berpikir,bersikap,atau berbuat seperti apa lagi untuk menghadapi anak-anaknya. Sehingga kemudian tidak jarang saya temui orang2 tua ini merasa hopeless -merasa tidak memiliki harapan lagi, kemudain merasa putus asa dan kemudian menyerah. Menyerah disini banyak maknanya. Ya menyerah untuk tidak terus bertahan dengan komitmen2 mereka, menyerah untuk membiarkan anak2 mereka ‘berjalan’ dan bertindak semau mereka dengan menenang2kan diri dan mengatakan,”..alah..nanti kan semua akan berubah..”, atau menyerah dengan mencoba cuek dan menyibukkan diri dengan urusan pribadi mereka sendiri. Tapi intinya disini, orang tua menyerah dan BERHENTI.

Sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan ketidakyakinan diri orang tua, karena jauh di lubuk hati sadar akan keterbatasan2 yang dimiliki. Sehingga orang tua dengan alasan apapun kemudian sadar/tidak sadar memutuskan untuk behenti berusaha. Disinilah orang tua sebagai Dalang, harus memiliki keyakinan dan kepercayaan diri. Bahwa seperti apapun perjalanan hidup membawa dan membentuk mereka, akan selalu ada celah dan kesempatan untuk belajar dan semakin memperkaya diri. Karena mau tidak mau, mampu tidak mampu, tanggung jawab itu harus tetap diemban.

Sebagai orang tua yang berbekal keyakinan bahwa seorang Dalang harus menang dari Wayangnya, Ibu, saya lihat selalu memiliki kepercayaan dan keyakinan diri bahwa apapun yang terjadi seorang Dalang memang TIDAK BOLEH kalah dari Wayangnya. Baik dalam perjalanan keseharian, maupun masalah yang lebih kompleks dan lebih besar. Sehingga dengan segala macam cara dan taktik, Beliau tidak pernah berhenti, selalu TERUS  BERUSAHA MENCARI. Kemanapun, pada siapapun, dan kapan pun.

Sebagai Dalang, orang tua tidak boleh “takut” pada anak2nya, tidak boleh ragu, tidak boleh, gentar saat berhadapan dengan anak2nya. Harus yakin. Itu yang dikesankan dan dipesankan oleh Beliau. Dan jelas, keyakinan didapat dari kesadaran akan ada/tidak atau penuh/tidak-nya bekal yang sudah dimiliki.

Dasar keyakinan semacam ini harus dimiliki oleh setiap orang tua. Bahwa dalam mendampingi anak2nya, orang tua harus yakin bahwa tidak pernah ada jalan buntu bagi mereka. Jalan buntu hanya tercipta bagi mereka yang berhenti berusaha. Jika terus mencari, terus bertanya, terus belajar, orang tua pasti menemukan cara untuk “menggenggam” anak2 mereka. Se-penthalitan apapun, se-bedhigisan apapun, se…perti apapun anak-anak mereka. Anak akan “terdiam” manakala orang tuanya yang berdiri di hadapannya, mampu memandang dan menyampaikan sesuatu dengan jelas dan tegas. Karena memang, DALANG TIDAK AKAN PERNAH KALAH DARI WAYANGNYA.. Karena DIA pasti telah mempersiapkan segalanya bagi Sang Dalang, untuk membimbing Wayang-Wayangnya. Dia, insyAllah selalu disamping semua orang tua di dunia ini.

Catatan: Istilah Dalang dan Wayang disini sama sekali bukan bermakna sebagai si Pengendali dan si Yang Dikendalikan. Tapi hanya dalam pemaknaan bahwa sebagai orang tua, kita harus memiliki keyakinan seperti keyakinan yang dimiliki seorang Dalang, bahwa dia memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkan Wayang2nya dengan baik. Sehingga pagelaran si Wayang dalam panggung kehidupan, dapat menciptakan peran yang indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s