Tantangan dan ‘PR’ Anak-Anak Kita: Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Gallery

This gallery contains 1 photo.

Menjadi anak yg baik dan berasal dari keluarga baik2, saat ini jelas tidak cukup sebagai bekal anak2 kita untuk bisa dengan lancar mengarungi kehidupan mereka, apalagi untuk mencapai keberhasilan/kesuksesan dalam kehidupan ini. Tantangan mereka saat ini saja sudah sangat luar … Continue reading

CARA MENYIKAPI DAN MENGHILANGKAN KEBIASAAAN MATERIALISTIS PADA ANAK ANDA

Featured

child5

1. SELALU KATAKAN TIDAK

Selalu katakan ‘tidak’ untuk keinginan-keinginan anak Anda terhadap barang yang tidak ada manfaatnya bagi mereka. Katakan tidak pada anak Anda, meski pada awalnya menimbulkan rengekan, amukan/kemarahan mereka:

  • Jelaskan dengan sederhana beserta alasan Anda tentang aturan (baru) ini
  • Pokoknya, jangan menyerah 😀

2. PERHATIKAN DAN KENDALIKAN TONTONAN IKLAN DI TV

Penelitian menunjukkan bahwa lebih sedikit tontonan iklan di TV yang dilihat anak-anak, semakin kecil kemungkinan mereka akan menjadi materialistis.

  • Tekan tombol mute dan berbicaralah/ajak anak Anda mengobrol, setiap kali iklan ditayangkan.
  • Berusaha mendapatkan tayangan TV tanpa iklan (seperti TV kabel)

3. LEWATKAN LEBIH BANYAK WAKTU DENGAN ANAK ANDA

Observasi menunjukkan bahwa anak-anak yang materialistis banyak melewatkan waktu untuk berbelanja dengan orang tua mereka, saat ada kesempatan keluar bersama-sama.

Coba jawab: Seberapa banyak kegiatan keluar Anda menekankan pada nilai-nilai non-material..?

  • Usahakanlah untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak memiliki banyak kemungkinan dimana Anda akan/harus mengeluarkan uang, seperti: ke taman, bermain sepeda, ke museum, mengobrol, membangun benteng pasir di pantai, memasak, berkebun, memandangi bintang, memandangi awan, bermain monopoli, dll.
  • Tunjukkan kepada anak Anda, sisi lain dari kehidupan.

4. PERHATIKAN SELF ESTEEM (penghargaan terhadap diri) ANAK

Penelitian di University of Minnesota menunjukkan, semakin materialis anak, semakin anak tersebut akan memiliki self esteem yang rendah. Semua baju, alat elektronik, yang mereka miliki ternyata ‘menekan’ penghargaan diri mereka dengan ‘mengirimkan’ pesan yang dangkal: “Identitasmu adalah apa yang kau miliki, dan bukan siapa dirimu..”.

Anda dapat merubahnya dengan memberikan penghargaan kepada mereka dengan berfokus pada kualitas dalam diri mereka, seperti bahwa mereka ‘cerdas’ atau ‘pribadi yang asik/menyenangkan’. Penelitian menunjukkan dengan melakukan hal ini dengan segera akan mengurangi kemungkinan anak menjadi materialis pada usia remaja mereka.

  • Simpan sebagian mainan/’harta karun’ anak-anak yang sedang tidak menjadi fokus mereka
  • Ruang akan menjadi lebih bersih dan rapi, mereka bisa berman dengan lebih leluasa
  • Mainan akan terasa ‘baru’ lagi saat mereka ingat dan menginginkan bermain dengan mainan itu lagi
  • Anak akan lebih menghargai mainan-mainan itu dan mereka akan memperlakukannya seperti mainan baru 😀

5. JANGAN BIASAKAN MENGGUNAKAN MATERI SEBAGAI REWARD

“..Adik mau nurut kalau mama mbeliin jeans yang itu..”.

“Aku dibayar berapa..?”

Jika anak Anda seperti itu, itu tandanya selama ini mereka telah terbiasa mendapatkan reward dalam bentuk uang atau benda sebagai upah jika mereka mampu bersikap lebih baik, atau mengerjakan sesuatu.

Anda dapat merubahnya dengan memberikan pujian, pelukan, dan tepukan di punggung mereka kapan saja mereka patut mendapatkannya.

Jadi mulai sekarang, respon baru Anda adalah hanya mengharapkan anak Anda mengerjakan sebuah hal atau untuk bersikap lebih baik, tanpa adanya kompensasi..

6. BERHENTI MENIMBUN BARANG

Sediakan 3 kotak, masing-masing dengan tempelan tulisan:

  1. SAMPAH (untuk barang-barang yang sobek, patah, atau rusak)
  2. MEMORI/KENANG2AN (untuk barang-barang memiliki arti spesial)
  3. AMAL (untuk mainan-mainan, asesoris, atau pakaian yang masih layak pakai)

Jelaskan pada anak Anda, bahwa ia harus menyimpan apa yang benar-benar ia butuhkan, ia pakai, dan ia gunakan, dan letakkan sisanya di kotak.

Pastikan ia ikut membantu Anda/bersama Anda mengantar kotak AMAL ke tempat-tempat yang membutuhkan. Ini akan membuat mereka menyadari bahwa tidak semua orang beruntung (sampaikan ini secara verbal, jangan berharap mereka akan tahu dengan sendirinya).

7. AJARKAN: BUTUH ATAU PENGEN

Anak materialistis seringkali menginginkan sesuatu SEKARANG JUGA dan tidak akan berhenti untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut dibutuhkan.

Jika anak meminta sesuatu yang tidak penting, tanyakan: “Apakah ini barang yang kamu BENAR-BENAR BUTUHKAN atau hanya kamu INGINKAN..?”.

8. AJARKAN KEBIASAAN UNTUK MEMBERI/BERBAGI (BUKAN KEBIASAAN UNTUK MENDAPATKAN SESUATU)

Kebiasaan memberi/berbagi memberikan sumbangan yang paling besar dan paling kuat untuk melawan kebiasaan materialistis.

  • Ajak anak Anda ke tetangga yang sakit untuk mengantar makanan
  • Ajari dan berikan contoh kepada anak Anda untuk bersedekah secara kontinu

9. KENDALIKAN DIRI ANDA

  • Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang materialistis akan membesarkan anak yang lebih materialistis
  • Andalah contoh terbaik bagi anak-anak Anda dalam menghadapi dunia yang materialistis.

Jadi, contoh seperti apakah yang telah Anda bentuk selama ini..?

LINDUNGI ANAK ANDA: SARAN-SARAN DARI PELAKU PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK-ANAK (Bagian III)

Featured

sad-little-girl-1585505

(Informasi ini disarikan dari kompilasi dan tulisan sejumlah pelaku pelecehan  terhadap anak-anak yang ada di dalam program treatment di The Center for  Behavioral Intrvention, Beaverton Oregon)

BAGIAN III

MENGAPA PELAKU PELECEHAN DAN KEKERASAN TERHADAP ANAK-ANAK TIDAK SELALU DAPAT TERTANGKAP?

Ingat, begitu saya memulai, saya akan melakukan semua hal yang mungkin saya lakukan agar terus dapat melecehkan anak Anda. Saya secara seksual terangsang oleh anak-anak dan saya menikmati hal-hal berbau seksual berkegiatan seksual dengan anak Anda. Jika saya telah mendapatkan ‘latihan’ yang cukup, saya bisa menjadi sangat terampil saat melakukannya. Saya tidak akan berhenti karena diri saya sendiri. Saya sangat mementingkan diri saya sendiri dan saya tidak peduli jika perilaku saya menyakiti anak Anda.

Setelah mulai melakukan pelecehan pada anak Anda, saya memelihara kerjasamanya dan kediamannya dengan membuatnya merasa bersalah, merasa malu, merasa takut, dan kadangkala ‘cinta’:

  • Saya meyakinkan anak Anda bahwa ia bertanggungjawab atas perlakuan saya
  • Saya membuat anak Anda berpikir bahwa tidak ada satupun orang yang akan mempercayainya jika ia bercerita tentang diri saya
  • Saya berkata pada anak Anda bahwa Anda akan kecewa padanya karena apa yang sudah ‘dilakukannya’ dengan saya
  • Saya memperingatkan anak Anda bahwa dialah yang akan dihukum jika ia bercerita
  • Saya dapat mengancam anak Anda dengan ancaman kekerasan fisik terhadapnya, atau terhadap Anda, pada hewan peliharaan, atau orang lain yang disayanginya
  • Saya dapat membuat Anda merasa kasihan pada diri saya atau membuatnya percaya bahwa hanya dirinyalah yang memahami saya
  • Jika saya seorang orang tua dan tinggal di rumah bersama anak-anak, perilaku saya akan tampak seperti tidak disengaja. Saya bisa saja ‘secara tidak sengaja’ membuat bagian-bagian tubuh saya tertentu terlihat, atau ‘secara tidak sengaja’ masuk ke kamr mandi dimana anak-anak sedang berada di dalam atau saat mereka sedang berganti pakaian
  • Jika saya seorang ayah, perilaku saya bisa tampak ‘normal’ di mata orang lain. Saya dapat memanfaatkan kesempatan seperti pada saat mengantar anak-anak tidur untuk menyentuh mereka secara seksual
  • Saya dapat mengatakan pada anak-anak: “Inilah yang dilakukan oleh semua ayah pada anaknya”, sehingga mereka tidak tahu apa yang harus mereka ceritakan/laporkan
  • Saya dapat saja sangat pandai dalam memanipulasi anak-anak sehingga (sampai-sampai) mereka akan mencoba untuk membela saya, karena mereka ‘mencintai’ saya

______________________________________________________________________

BERSAMBUNG KE BAGIAN IV: Bagaimana Cara Mencegahnya..? Jangan Merasa Bahwa Anak Anda Aman Dari Saya..!

LINDUNGI ANAK ANDA: SARAN-SARAN DARI PELAKU PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK-ANAK (Bagian II)

Featured

Depressed Kid

(Informasi ini disarikan dari kompilasi dan tulisan sejumlah pelaku pelecehan  terhadap anak-anak yang ada di dalam program treatment di The Center for  Behavioral Intrvention, Beaverton Oregon)

BAGIAN II

BAGAIMANA PELAKU PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL MENDAPATKAN AKSES KE ANAK ANDA

  • Saya memperhatikan anak Anda dan membuatnya merasa spesial
  • Saya akan hadir di tengah-tengah keluarga Anda menjadi seseorang  yang Anda dan keluarga Anda percayai
  • Saya tahu apa yang disukai dan apa yang tidak disukai anak Anda, dengan sangat baik
  • Saya akan memberikan hadiah atau apapun yang akan menyenangkan hati anak Anda
  • Saya mengisolasi anak Anda dengan mengajaknya beraktivitas/bermain yang menyenangkan, sehingga kami bisa bersama, hanya berdua
  • Jika Anda orang tua tunggal,  bisa jadi saya akan menjadi target Anda dalam mewujudkan sosok seorang ayah atau menciptakan sebuah kehidupan kaluarga yang stabil. (Bisa jadi pelaku akan ‘menjelma” menjadi seorang laki-laki dambaan Anda)
  • Jika karir saya melibatkan anak-anak, saya dapat memilih untuk menggunakan waktu luang saya untuk membantu anak-anak atau membawa mereka dalam sebuah kegiatan di luar, hanya dengan saya
  • Saya mungkin saja mengetahui lebih banyak tentang apa yang disukai anak Anda daripada Anda (musik, pakaiana, games, bahasa, dsb)
  • Saya memanfaatkan rasa ngin tahu  anak Anda dengan menceritakan guyonan-guyonan kotor, menunjukkan hal-hal yang berbau pornografi, dan bermain permainan yang berbau seks
  • Jika saya orang tua, akan menjadi lebih mudah lagi bagi saya untuk mengisolasi, mengontrol, dan melecehkan anak saya sendiri. Saya dapat  melakukan kekerasan seksual terhadap anak saya, tanpa istri saya mencurigainya sama sekali. Saya secara bertahap akan menghalangi komunikasi antara anak-anak saya dengan ibunya, dan dapat membuatnya seolah-olah saya-lah sosok yang baik
  • Saya dapat menyentuh anak Anda saat Anda hadir/ada sehingga ia akan berpikir bahwa Anda merasa nyaman/tidak berkeberatan dengan cara saya menyentuhnya

_________________________________________________________________

BERSAMBUNG KE BAGIAN III: Mengapa Pelaku Pelecehan dan Kekerasan Terhadap Anak-Anak Tidak Selalu Dapat Tertangkap?

LINDUNGI ANAK ANDA: SARAN-SARAN DARI PELAKU PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK-ANAK (Bagian I)

Featured

(Informasi ini disarikan dari kompilasi dan tulisan sejumlah pelaku pelecehan terhadap anak-anak yang ada di dalam program treatment di The Center for Behavioral Intervention, Beaverton Oregon)

BAGIAN I 

child_abuse

PENGANTAR

APAKAH YANG DISEBUT DENGAN PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK?

Situasi biasanya diawali pada saat pelaku mulai berusaha mendapatkan kepercayaan dan hubungan pertemanan dengan anak. Selanjutnya pelaku akan ‘mengecek’ kemampuan anak untuk melindungi diri dengan mencoba bercerita tentang guyonan seputar seks, mencoba mengajak anak bermain kuda-kudaan, menggosok punggung, mencium, atau permainan-permainan yang berbau seks.

Jika anak tampak merasa nyaman atau tampak merasa ingin tahu tentang perilaku-perilaku tersebut, (dan memang pada umumnya anak yang sehat sewajarnya demikian), pelaku dengan perlahan akan meningkatkan kuantitas dan tipe sentuhan untuk nantinya menuju pada sentuhan seksual secara langsung.

Pelecehan dan kekerasan seksual dapat meliputi perilaku menunjukkan, membelai, masturbasi, seks oral, hubungan seksual itu sendiri, dan pornografi.

Banyak anak tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi atau apa yang salah. Kebanyakan pelaku mengetahui bahwa jika mereka membahayakan anak secara fisik saat melakukan pelecehan/kekerasan seksual, maka kemungkinan anak akan bercerita akan lebih besar. Mereka juga cukup pandai untuk membuat anak merasa bahwa seolah-olah ia yang bertanggung jawab terhadap kontak/apa yang terjadi. Anak menjadi terjebak dan tidak mampu untuk bercerita kepada siapapun apa yang sedang terjadi.

Untuk mencegah terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual pada  anak, orang tua, sekolah, dan komunitas masyarakat harus bekerja bersama-sama untuk mengembangkan program pencegahan, termasuk di dalamnya dengan mengadakan program pelatihan untuk orang tua (parent training program) serta dengan menggalakkan usaha pelaporan kasus. Informasi dalam tulisan ini disarikan dari kompilasi dan tulisan sejumlah pelaku pelecehan terhadap anak-anak yang ada di dalam program treatment di The Center for Behavioral Intervention, Beaverton Oregon.

Seperti telah disampaikan di atas, pelaku pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak juga akan membuat anak merasa  bersalah dan merasa bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi. Dinamika ini membuat situasi menjadi dangat berat bagi anak untuk dapat bercerita kepada siapapun tentang apa yang sedang terjadi pada mereka.

Semoga tulisan ini dapat membantu Anda melindungi anak-anak dari orang-orang yang menjadi pelaku pelecehan dan kekerasan seksual. Mohon maaf jika tulisan ini mungkin akan menimbulkan perasaan ngeri, karena disampaikan langsung oleh pelaku.

SEPERTI APAKAH PROFIL PELAKU PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK?

  • Saya bisa saja seseorang yang cukup dikenal dan disukai anak Anda
  • Saya bisa saja seorang laki-laki atau perempuan, menikah atau belum menikah
  • Saya bisa saja seorang anak, remaja, atau dewasa
  • Saya bisa berasal dari suku/ras apapun, beragama apapun, dan memiliki preferensi seksual apapun
  • Saya bisa saja seorang orang tua, orang tua tiri, salah satu anggota keluarga, teman keluarga, guru, rohaniawan, babysitter, atau siapapun yang memiliki kontak dengan anak-anak
  • Saya kemungkinan besar sosok yang stabil, memiliki pekerjaan, dan merupakan anggota masyarakat yang dihargai
  • Pendidikan dan kecerdasan saya tidak mencegah saya untuk melakukan pelecehan dan kekerasan seksual pada anak Anda

Orang tua dapat mengalahkan saya jika mereka berusaha dan bekerja bersama-sama. Didik diri Anda, keluarga Anda, dan komunitas Anda.

__________________________________________________________________

BERSAMBUNG KE BAGIAN II: Bagaimana Pelaku Pelecehan dan Kekerasan Seksual pada Anak Mendapatkan Akses ke Anak Anda? “..Sangat Mudah untuk Mendapatkan Akses ke Anak Anda..” (Pelaku)

BERAS DAN KESIAPAN ANAK

Featured

image

Beras. Akan semakin menjadi lebih putih,bukan hanya karena ditumbuk dengan alu. Beras akan menjadi semakin putih,juga karena saling bergesekan dengan beras-beras yg lain.

Seperti diri kita. Karakter kita akan semakin terasah jika kita memberikan diri kita kesempatan untuk lebih banyak bergesekan dengan org lain. Lebih banyak hal baru, pelajaran baru, masukan2 baru, konflik2 baru, menjadikan diri kita individu yg selalu ‘baru’. Baru dengan menjadi lebih baik.

Dorong anak2 kita untuk terus bisa mendapat kesempatan untuk ‘bergesekan’ dengan dunia. Dunia di luar pelukan dan kasih sayang penuh kehangatan dari kita orang tuanya. Se-khawatir apapun kita, kita harus tetap mampu memberikan mereka kesempatan untuk merambah dunia.

Betul, bagi orang tua, tempat paling aman bagi anak2, adalah di samping orang tuanya. Tapi bisakah kita memastikan, sampai kapan kita akan terus ada di samping mereka? Pada saatnya mereka akan berjalan dan berjuang di atas kaki mereka sendiri. Dengan menahan mereka untuk ‘keluar’, kita berarti menunda kesempatan mereka untuk mulai belajar, dan berarti kita menunda kesiapan mereka.

Kita hanya perlu memastikan bahwa bekal yang kita berikan selalu kita tambah dan kita kuatkan setiap waktu. Plus ekstra doa yang tiada habisnya. Kita musti yakin, mereka telah siap..

BAGAIMANA CARA MEMBENTENGI DIRI DARI TERJADINYA AFFAIR..?

Featured

AffairProof_0

Mungkin Anda berpikir bahwa jika seseorang tertarik pada seseorang yang lain selain pasangannya, maka pasti ada sesuatu yang salah/ada masalah di rumahnya. Pendapat ini tidak benar. Karena timbulnya kertarikan pada orang lain meski Anda memiliki pernikahan yang baik-baik saja atau bahkan sangat baik, adalah hal yang mungkin terjadi.

Satu-satunya benteng utama yang dapat menolak timbulnya sebuah affair adalah dengan adanya penetapan batas yang tegas.

Dalam budaya saat ini dimana laki-laki dan perempuan dimungkinkan untuk bekerja dengan interaksi yang sangat dekat, Anda harus memastikan bahwa Anda tidak menciptakan kemungkinan bagi timbulnya sebuah affair, terutama pada saat-saat dimana Anda mungkin sedang berada pada situasi yang rentan. Hindarkan diri Anda untuk berbagi cerita tepat setelah Anda bertengkar dengan pasangan Anda, atau tepat pada saat Anda ada di tengah-tengah sebuah permasalahan dengan pasangan Anda. Saat-saat dimana justru seseorang biasanya akan ‘terpeleset’, karena saat-saat seperti ini justru saat dimana Anda ‘jauh’ dari pasangan Anda dan Anda merasa butuh teman untuk ngobrol atau untuk share. 

Salah satu pintu yang biasanya menjadi awal bagi timbulnya sebuah affair adalah ketika seorang laki-laki dan perempuan yang  ‘hanya sekedar teman biasa’ dengan polosnya mulai mendiskusikan masalah dalam pernikahan mereka (masing-masing), satu sama lain. Mereka tanpa sadar mencoba berdiskusi dan saling bersimpati, kemudian akan mereka-reka cara dan menciptakan gambaran yang lebih baik tentang sebuah pernikahan, akan tetapi dengan seseorang yang salah.

Para peneliti dalam bidang hubungan pernikahan menyatakan bahwa penyebab utama kasus-kasus affair dalam pernikahan adalah karena tentang kerahasiaan kedekatan dengan seseorang dari luar pernikahan. Contohnya jika Anda setiap pagi berjalan dengan seorang perempuan yang bukan istri Anda dan istri Anda tidak mengetahuinya, maka berarti Anda telah melanggar kode etik Anda terhadap istri Anda, karena Anda menyimpan rahasia darinya tentang kedekatan Anda dengan orang lain. Jadi jika Anda memiliki sebuah hubungan dengan seseorang dan Anda merahasiakannya dari pasangan Anda, maka berarti Anda telah melanggar sebuah batasan yang penting.

Peneliti dalam kasus-kasus ketidaksetiaan dalam pernikahan juga menemukan bahwa orang-orang yang meninggalkan pernikahan mereka untuk mengejar sebuah hubungan yang lain dengan pasangan affair mereka, hanya 10% dari yang benar-benar akhirnya bertahan dengan pasangan affair mereka.

Peneliti juga menemukan bahwa pada umumnya mereka yang terlibat dalam affair menyatakan, bahwa mereka semua berharap affair tersebut tidak pernah terjadi, dan mereka berharap bahwa sebelum affair itu terjadi mereka dapat menyediakan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk dapat menyelamatkan pernikahan mereka.

BAGAIMANA CARA MEMBENTENGI DIRI DARI AFFAIR?

1. TETAPKAN BATASAN YANG JELAS

Tetapkan standard yang sesuai dengan nilai-nilai/norma agama yang Anda miliki dengan jelas. Pastikan Anda memiliki kesadaran dan pegangan yang kuat untuk membentengi diri Anda. Misalnya jika Anda menyadari bahwa diri Anda berharap untuk bertemu dengan seseorang secara rahasia, maka Anda mampu menyadari bahwa secara emosi Anda telah berjalan terlalu jauh. Atau Anda mampu menyadari, bahwa jika suatu ketika Anda tidak berniat untuk mengatakan pada pasangan lain tentang aktivitas yang melibatkan Anda dengan salah satu dari mereka, maka Anda tahu bahwa sebuah batas telah dilanggar.

2. PELIHARA HUBUNGAN DENGAN PASANGAN ANDA DENGAN BERKOMUNIKASI

Daripada menciptakan dinding kerahasiaan, berbicaralah pada pasangan Anda. Berbicaralah tentang semua yang terjadi dalam kehidupan Anda, termasuk tentang hubungan Anda dengan perempuan/laki-laki lain. Jangan simpan rahasia apapun. Tingkat kedekatan personal yang seperti ini akan membantu Anda untuk menjaga dan menetapkan limit dengan orang lain di luar pernikahan Anda.

3. PASTIKAN SITUASI ROMANTIS DI RUMAH TETAP ADA

Banyak dari kita yang berpikir bahwa soal sayang dan perhatian adalah sesuatu yang sudah jelas, akan tetapi ini sungguh bukan hal yang sepele. Cobalah untuk tetap secara kontinu melakukan hal-hal kecil (yang hanya Anda dan pasangan Anda yang mengetahuinya) untuk pasangan Anda dan pastikan pasangan Anda tahu bahwa Anda mencintai dan menyayanginya, dan bahwa Anda memikirkannya.

Telponlah pasangan Anda di tengah-tegah kesibukan Anda, hanya sekedar untuk mengobrol ringan selama beberapa menit. Ciptakan waktu untuk berdua saja pada malam akhir minggu. Setiap 2 bulan sekali atau terserah Anda, serahkan semua pekerjaan rumah kepada siapapun yang Anda percaya dan lewatkan waktu hanya berdua selama beberapa waktu/beberapa hari hanya dengan berduaan. Menjaga bara api ini di rumah akan membantu Anda untuk tidak merasa perlu mencari romantisme dan petualangan dengan orang lain di luar rumah.

4. JIKA ANDA TERTARIK DENGAN SESEORANG, JANGAN PERNAH BIARKAN ORANG ITU MENGETAHUINYA

Berbagi perasaan tentang rasa ketertarikan hanya akan membuka pintu bagi orang lain untuk juga berbagi perasaannya kepada Anda. Jika ketertarikan sudah saling diketahui (bersifat mutual), maka saat itulah masalah akan dimulai.

5. JAUHI LINGKUNGAN DIMANA KETIDAKSETIAAN CENDERUNG UNTUK DITERIMA/BERKEMBANG

Acara makan siang sembunyi-sembunyi, mampir di cafe setelah jam kerja, dan tempat-tempat/kesempatan-kesempatan lain seperti itu adalah tempat-tempat yang penuh dengan bahaya. Atau singkatnya, jauhi tempat/kesempatan dimana Anda biasanya minum dan menikmati waktu dimana pasangan Anda tidak ada disitu.

Long Distance Parenting (LDP) – TIPS PARENTING JARAK JAUH

Featured

Long-distance-parenting-And-its-disadvantageous

Hubungan orang tua-anak selalu merupakan hal yang tidak mudah dan menantang. Meski berdekatan, kesalahpahaman seringkali timbul dan ketegangan hampir selalu mewarnai. Kemudian seberapa besar itu akan bertambah, jika jarak memisahkan Anda dengan mereka?

Banyak faktor yang menyebabkan orang tua secara fisik tidak hadir di rumah. Sebagian orang tua dimana pekerjaan mereka menuntut mereka untuk melakukan perjalanan tugas, seperti mereka yang bekerja di dunia militer atau hubungan diplomatik. Sebagian lagi bekerja dengan posisi pada kantor-kantor cabang perusahaan-perusahaan multinasional yang berada di kota lain atau negara lain. Sebagian yang lainnya lagi, karena perceraian atau karena menikah lagi, sehingga tidak ada pilihan lain selain harus hidup terpisah dengan anak-anak mereka. Atau, jarak yang harus memisahkan saat anak-anak Anda harus menuntut ilmu di kota lain atau negara lain.

Apapun penyebabnya, terpisahnya orang tua dan anak secara geografis/jarak ini akan membuat kehadiran Anda atau anak Anda tidak akan terasa, satu sama lain.

Di bawah ini adalah kiat-kiat yang secara praktis bagi orang tua untuk membangun hubungan positif dengan anak dari jarak jauh.

1. BELAJARLAH UNTUK MENGUASAI DAN MEMANFAATKAN GADGET

Anda beruntung, karena saat ini teknologi telah membuat komunikasi jarak jauh menjadi lebih mudah, cepat, dan terjangkau. Belajarlah bagaimana caranya menulis dan mengirimkan email atau mengobrol via chatting room atau lebih sederhana lagi belajar untuk memanfaatkan SMS dengan baik dan efektif. Pokoknya dengan cara apapun, asalkan bukan dengan cara fate-to-face. Kenapa? Karena banyak orang tua dan anak-anak yang merasa lebih mudah mengatakan/mengungkapkan sesuatu via media tidak langsung, daripada secara face-to-face. Dan sementara pada umumnya anak cenderung menolak pelukan dan menolak kedekatan dari orang tua pada usia remaja mereka, komunikasi via SMS merupakan cara yang cukup halus bagi orang tua untuk dapat membuat anak merasa dihargai tanpa merasa malu. Manfaatkan cara-cara ini, karena cara ini dapat menciptakan obrolan yang lebih mendalam.

Cobalah untuk lebih kreatif, dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, seperti menambahkan gambar, atau emoticon, agar Anda dapat menunjukkan ekspresi Anda saat mengobrol/saat menyampaikan pesan pada mereka. Biarkan anak Anda melihat bagaimana Anda berusaha lewat pesan yang Anda sampaikan. Jangan merasa malas, merasa malu/merasa tidak pada tempatnya, apalagi merasa tidak ada gunanya, karena cara ini akan membawa banyak manfaat. Seorang anak tidak akan memiliki pilihan lain selain menunjukkan penghargaan mereka (dengan cara apapun), jika mereka melihat dengan jelas bahwa Anda telah melakukan sesuatu dengan usaha yang ekstra.

2. BERBICARALAH TENTANG HAL-HAL SEPELE SEHARI-HARI

Oke, setelah kita sudah tahu cara memanfaatkan fasilitas yang ada, kemudian apa yang sebaiknya kita bicarakan?

Orang tua biasanya seperti ‘terjebak’ dalam pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap hari, seperti ini:

“Gimana sekolah/kuliah hari ini..?”

“Bagaimana nilaimu tadi?”

“Kakak butuh sesuatu..?”

Lebih parah sebagian orang tua memanfaatkan waktu yang singkat saat mengontak anaknya untuk menceramahi:

“Pastikan kamu kerjakan PR setiap hari”.

“Jangan lupa hubungi tukang servis saluran besok..”.

Betul obrolan semacam ini penting, dan iya jelas orang tua bermaksud baik, akan tetapi obrolan semacam ini akan menimbulkan ketegangan jika terus dilakukan dan menjadi kebiasaan. Dan jika hanya hal-hal seperti ini yang bisa Anda sampaikan, saya bisa bayangkan anak Anda sudah merasa ngeri hanya dengan mendengar dering telepon saja.

Catat hal ini: Anda tidak sedang membuang-mbuang waktu Anda jika Anda mengobrolkan hal-hal sederhana sehari-hari. Hal-hal yang sepertinya sepele seperti:

“Menunya apa buat makan malam nanti, nak..?”

“..Tadi jalanan macet ga waktu pulang..?”

“..Sariawannya sudah sembuh, Kak..?”

Obrolan seperti ini akan memberikan ke-normal-an yang dibutuhkan dalam hubungan Anda. Hal-hal semacam ini akan membuat Anda menjadi bagian dari hari mereka. Ingat, Anda bukan pimpinan atau kepala polisi yang sedang mengecek kepatuhan bawahan Anda. Anda adalah Ayah, Anda adalah Ibu, dimana perhatian dan kasih sayang Anda yang selalu dibutuhkan oleh anak-anak Anda.

3. LIBATKAN MEREKA DALAM KEHIDUPAN ANDA, dan AJARKAN MEREKA UNTUK MELIBATKAN ANDA DALAM KEHIDUPAN MEREKA

Keterlibatan dalam kehidupan satu sama lain akan memberikan manfaat dua arah. Hanya karena Anda jauh bukan berarti Anda hidup di dunia yang lain. Biarkan mereka mengetahui bagaimana kabar Anda dan apa yang terjadi dengan kehidupan Anda, dan demikian juga sebaliknya.

Tragedi yang sering terjadi dalam LDP adalah pada saat anak-anak terus bertumbuh dan mereka sedikit mengetahui tentang orang tua mereka, atau sebaliknya. Buatlah anak-anak Anda dapat terus mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan Anda, dan demikian juga sebaliknya. Ajarkan mereka untuk melibatkan Anda dalam kehidupan mereka pula. Salah satu cara sederhana adalah dengan menulis blog secara rutin dalam bentuk jurnal keseharian, atau dengan memanfaatkan facebook.

Anda dapat melakukannya dan juga mengajarkan anak Anda untuk meng-update berita lewat media sosial mereka tentang perkembangan sekolah mereka, tempat kuliah mereka, kota dimana mereka tinggal, menu-menu di cafe dimana mereka kadang duduk mengerjakan tugas, dan kegiatan-kegiatan yang mereka ikuti bersama teman-teman mereka.

Usahakan untuk secara rutin membaca, dan berikan komentar yang positif, membangun, yang penuh doa dan dukungan, dan sebaliknya selalu berkomunikasilah pada mereka, dan tanyakan pendapat mereka tentang apa yang Anda tulis dan muat setiap waktu. Semua hal ini akan membuat Anda dan mereka nyata, (bersifat) manusiawi, dan mutidimensional, bagi satu sama lain. Lebih penting lagi, semua ini membuat Anda terjangkau oleh mereka.

TIGA ASUMSI YANG MERUSAK YANG BIASANYA KITA MILIKI DALAM HUBUNGAN DENGAN PASANGAN KITA

Featured

peace faith love

Hubungan dengan pasangan kita, adalah sebuah sumber ketegangan dan sekaligus sumber kebahagiaan, yang luar biasa. Semua hal yang kita jalani berpusat pada pikiran kita. Di bawah ini adalah 3 hal yang biasanya melanda pikiran kita dalam perjalanan hubungan kita dengan pasangan kita, 3 hal yang kali ini akan kita lihat bisa menjadi sumber masalah dan ketegangan yang luar biasa di antara kita dan pasangan kita.

1. ‘AKU MERASA SAKIT, ..INI ADALAH KARENAMU..’

Kita seringkali berasumsi bahwa jika kita merasa sakit atau marah atau sedih, dan itu berhubungan dengan pasangan kita, maka kita akan berpikir bahwa itu pasti kesalahan pasangan kita, atau bahwa mereka pasti telah menyebabkan rasa sakit itu. Demikian menurut Keith Miller, psikoterapis ahli dari Washington DC.

Sebagai contoh, seorang istri mendapat kabar dari suaminya bahwa suaminya mendapat tugas kerja ke luar negeri. Dengan segera ia mulai merasa dibebani pikiran bahwa ia akan mendapat tanggung jawab untuk merawat dan menjaga anak-anak mereka, sementara pada saat yang bersamaan ia juga harus memenuhi jadwal tuntutan-tuntutan pekerjaannya. Ia akan terus berpikir, “Kenapa aku yang terus-terusan diharapkan/dituntut untuk selalu mengorbankan banyak hal dan menjaga banyak hal sementara ia bisa ‘menghilang’ dengan begitu saja..?”  Dan seterusnya ia juga mulai membuat asumsi-asumsi yang lain: “Dia tidak menyayangiku. Pekerjaannya lebih penting dariku baginya”. Dengan kata lain ia berasumsi bahwa suaminya-lah penyebab semua rasa sakitnya. Namun sebenarnya, ketika si istri ini terus menggali lebih dalam, ia akan menyadari, bahwa apa yang sebenarnya dirasakannya adalah kesedihan dan kekecewaan. Sayangnya ia tidak pernah mengekpresikan bagaimana ia merasa sendiri ketika suaminya pergi dan bagaimana sulitnya ia menjalani banyak hal tanpa suaminya.

Jadi, daripada berasumsi bahwa pasangan Anda adalah penyebab semua rasa sedih dan rasa sakit Anda, lebih baik jika Anda dapat mengecek apa yang sebenarnya Anda rasakan. Kemudian ungkapkanlah apa yang Anda rasakan pada pasangan Anda dan diskusikan dengannya.

2. “KAU HARUS MEMBUATKU MERASA NYAMAN, KAPANPUN AKU MEMBUTUHKANNYA..”

Menurut Miller, asumsi seperti ini datang dari saat pendekatan awal dengan pasangan kita. Saat itulah saat kita dapat memproyeksikan bahwa: ‘dialah orang yang akan menjaga dan merawatku’.

Namun ahli menyatakan bahwa terlalu menyandarkan diri pada pasangan Anda dapat menjadi sebuah sumber ketegangan yang besar. Cara yang lebih baik adalah Anda belajar dan berusaha untuk meredakan ketegangan dan kecemasan Anda sendiri. Cara ini akan menciptakan sebuah keseimbangan otonomi diri dan kedekatan yang sehat.

Jadi, sebelum Anda meminta pasangan Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda, tanyakan kepada diri Anda sendiri terlebih dahulu, “Bagaimana aku dapat bertanggung jawab dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini..?”

3. “SITUASI INI AKAN TERUS MENJADI SEMAKIN BURUK..”

Ketika ketika Anda dan pasangan Anda sedang mengalami sebuah hal yang sulit, biasanya Anda atau pasangan Anda  akan berasumsi tentang hal yang paling buruk. Hal ini didukung oleh Kathy Nickerson, Ph.D, seorang psikolog klinis di Orang County.

Anda akan berasumsi bahwa kita (pasti) akan terus merasakan kesulitan/merasa sakit lagi, sehingga kemudian Anda akan berpikir: Ya sudahlah..persetan..terserah apa yang terjadi.. , dan Anda akan berpikir untuk berputus asa atau melakukan hal yang negatif. Hal ini hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi. Lebih parah lagi, dinamika ini akan berlanjut seolah-olah Anda bisa meramal apa yang akan terjadi nanti, dan jelas hal ini akan semakin membuat semua menjadi lebih buruk lagi.

Pasangan kita seharusnya merasa aman dan nyaman dengan Anda, juga pada saat berada pada masa-masa sulit, jadi sebaiknya Anda dapat mencoba untuk bersikap baik dan berbelaskasihan (karena rasa sayang) kepada pasangan Anda. Bersikaplah yang ramah, dan berpikirlah tentang perasaan pasangan Anda.

Kita cenderung akan berpikir bahwa kita-lah yang memliki masalah paling besar, bahwa kita-lah yang paling banyak berkorban, dan kita-lah yang paling dirugikan. Seringkali kita lupa, bahwa kita semua memiliki masalah dan memiliki rasa sakit/kesedihan, dan (sebenarnya) kita semua sedang mencoba untuk berbuat yang terbaik dari yang kita bisa. Seringkali tidak terpikirkan oleh kita, bahwa pasangan kita pun sedang berusaha seperti kita, mengusahakan yang terbaik bagi kita..

Integritas Pribadi I

Gallery

This gallery contains 3 photos.

Integritas adalah sebuah keadaan yang mencerminkan adanya kesatuan yang utuh atau adanya konsistensi dalam aspek-aspek di dalam diri seseorang. Aspek-aspek tersebut adalah apa yang dikatakan/dipikirkan, apa yang dirasakan/diyakini, dan apa yang dilakukan. Lebih dalam lagi integritas adalah tentang prinsip-prinsip, nilai-nilai agama … Continue reading

Pendampingan Remaja (Teenage Mentoring Program) – I (Bagian Pertama)

Gallery

Pendampingan remaja adalah salah satu jenis proses konseling yang saya tangani selama lebih dari 10 tahun terakhir dalam perjalanan karir saya sebagai Psikolog. Pendampingan remaja, seperti namanya, adalah sebuah proses pendampingan bersama remaja. Proses ini diawali dengan kedatangan orang tua … Continue reading

Link

FAIZ HAYAZA’ TRAINING PROGRAMS

Talk Show Parenting at SD Tumbuh Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

 

FAIZ HAYAZA’ COUNSELING AND TRAINING:                                                                 Faiz Hayaza’ Counseling and Training – the Web

MY TRAINING PROGRAMS:                                            http://faizhayaza.webs.com/trainings

1. PELATIHAN PENGEMBANGAN KARAKTER UNTUK ANAK DAN REMAJA                  (Character Building Training for Kids and Teenagers)         http://www.slideshare.net/faizhayaza/pelatihan-pengembangan-karakter-anak-dan-remaja 

2. IN HOUSE TRAINING UNTUK KARYAWAN                                                                      (In House Training for Employees):                                  http://www.slideshare.net/faizhayaza/proposal-in-house-training-karyawan-for-slideshare

3. TRAINING PUBLIC SPEAKING                                                                                           (Public Speaking Training):                                             http://www.slideshare.net/faizhayaza/proposal-pelatihan-public-speaking 

4. TRAINING PUBLIC SPEAKING UNTUK POLITISI/ANGGOTA LEGISLATIF/CALON ANGGOTA LEGISLATIF                                                                                                             (Public Speaking Training for Politicians):                     http://www.slideshare.net/faizhayaza/pelatihan-public-speaking-untuk-politikusanggota-lgislatifcalon-anggota-legislatif 

Psikolog..?

Gallery

This gallery contains 4 photos.

Siapapun diri kita, pada satu titik dalam kehidupan kita akan membutuhkan seseorang untuk membantu kita melihat dunia kita, dari luar diri kita, untuk membantu kita memahami dan menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi. Dan itu, tentu bukan sebuah kelemahan. Itu hanya … Continue reading

ANAK LAKI-LAKI ANDA, DAN BONEKA

boysndolls

Sebagian besar orang tua, terutama biasanya para ayah, berpendapat bahwa jika anak laki-laki bermain dengan boneka akan membuat anak laki-laki ini menjadi lebih tidak maskulin. Stereotip seperti ini masih cukup kuat ada dalam masyarakat kita. Akan tetapi penelitian-penelitian terkini telah menemukan dan membuktikan bahwa adalah merupakan hal yang sehat jika anak laki-laki bermain dengan boneka atau bermain dengan mainan-mainan anak perempuan lainnya.

Dari pengalaman pendampingan konseling dan kelas parenting bagi orang tua selama ini, kekhawatiran yang dimiliki oleh sebagian orang tua ini adalah, bagaimana jika anak laki-laki mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi laki-laki yang bersifat dan bersikap feminin.

Kondisi dimana seorang anak laki-laki bersifat dan bersikap feminin, tidak disebabkan karena anak lebih menyukai atau bermain dengan permainan perempuan. Penelitian-penelitian terakhir telah membuktikan bahwa kondisi dimana anak laki-laki atau laki-laki bersifat dan bersikap feminin disebabkan karena kondisi bawaan. Jadi anak laki-laki yang tidak memiliki kondisi bawaan ini, jika dibiarkan bermain dengan permainan perempuan, tidak akan kemudian membuatnya menjadi sosok laki-laki yang bersifat dan bersikap feminin.

Penemuan-penemuan baru justru menemukan bahwa dengan membiarkan anak laki-laki bermain dengan permainan-permainan anak perempuan akan memberikan manfaat positif dan tidak mempengaruhi perkembangan anak laki-laki ke arah negatif. Penelitian-penelitian ini mengungkap bahwa bermain dengan permainan anak perempuan dapat membantu anak laki-laki tumbuh dan berkembang menjadi lebih empatik dan lebih peka perasaannya.

Jadi, sebenarnya dengan membebaskan anak Anda memilih alat permainannya, akan membuatnya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih ‘kaya’. Jika Anda membebaskan anak laki-laki Anda memilih dan bermain juga dengan mainan perempuan, maka mereka akan belajar bagaimana menjadi laki-laki sejati, yang memiliki rentang emosi yang lengkap, yang memiliki kelembutan, rasa kepedulian, dan perhatian, dan bukan hanya memiliki/menunjukkan kekuatan atau maskulinitas semata.

______________________________

CATATAN: Jika insting Anda mengatakan ada sesuatu yang berbeda dengan anak Anda hubungannya dengan sikap/perilaku mereka sebagai anak laki-laki/anak perempuan, sebelum memutuskan tindakan apa yang akan Anda ambil, lebih baik jika Anda segera menghubungi ahli yang berkompeten. Buat janji dengan psikolog, dan diskusikan kekhawatiran Anda.